Salah Cetak (Bag.3)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Imprint dan Problematika Keuangan

Lina adalah orangtua tunggal dengan satu anak yang sebenarnya tidak punya masalah dengan keuangan. Ia tidak punya utang. Untuk tempat tinggalnya, ia menyewa sebuah rumah lengkap dengan segala perabotannya. Ia juga menyewa mobil.

Namun Lina tidak punya tabungan dan investasi sama sekali. Hati kecilnya mengatakan bahwa ia harus punya tabungan, paling tidak untuk sekolah anaknya dan simpanan hari tuanya. Tapi, ia tidak dapat melakukannya, meski ia tahu hal itu penting.

Sesungguhnya Lina punya sebuah imprint yang sangat membekas di masa kecilnya. Ayahnya seorang pegawai swasta yang setiap saat bisa dimutasikan atau dipromosikan ke luar kota. Semuanya demi uang yang lebih banyak. Sejak kelas satu SD, Lina sudah merasakan betapa seringnya ia harus pindah-pindah kota. Setiap beberapa tahun, truk-truk akan datang untuk memindahkan barangnya; semua tetangga melambaikan tangan; dia menangis saat harus meninggalkan rumah lamanya. Semua terasa sangat berat di sekolah yang baru. Baju seragam tidak pernah cocok, dan murid-murid lain akan menertawakan logat bicaranya. Guru-guru akan menerangkan pelajaran dengan cara yang sangat berbeda. Ia harus beradaptasi dengan teman-teman baru. Namun pada saat sudah mendapatkan teman yang cocok, lagi-lagi ia harus pindah ke kota lainnya lagi.

Semua itu juga tampak berat buat ibu Lina. Pada perpindahan kelima kalinya, ibunya mulai berhenti mengeluarkan piring-piring dari kotaknya, karena pikirnya, ”Untuk apa? Toh, piring-piring itu akan segera dimasukkan lagi ke dalam kotaknya masing-masing.”

Dengan pengalaman seperti ini Lina merasa bahwa ia toh akan pindah lagi keesokan harinya. Tidak ada komitmen, tidak ada ikatan, tidak ada perabotan, tidak ada kerumitan yang harus ia bereskan, jika tiba-tiba harus pindah rumah. Ia telah meyakini bahwa untuk bisa menjauhi rasa sakit, ia harus menjaga jarak dari uang yang ia miliki.

Kendali Terhadap Uang

Markus punya imprint jenis lain yang di masa dewasanya menjadikannya sulit sekali untuk menjaga uangnya. Ia merasa telah kehilangan segalanya dan mustahil ia punya kekuasaan untuk menjaga uang yang dimiliki, apalagi membuatnya tumbuh berkembang.

Kisahnya bermula ketika ia berumur 7 tahun dan ibunya memberi uang sepuluh ribu rupiah untuk membeli kue cucur. Kakek, nenek dan sepupunya akan datang ke kotanya dan kebetulan hari itu adalah hari yang istimewa. Kue cucur di kotanya adalah kue yang paling terkenal dan orangtuanya ingin menyenangkan tamu-tamunya.

Itu kali pertama Markus pergi sendiri ke toko itu. Ia telah melewati jalan itu beratus-ratus kali, tapi tidak pernah sendirian. Uang sepuluh ribu adalah uang yang sangat besar saat itu. Ibunya memberi tahu berapa harga kue dan mewanti-wanti untuk menyimpan kembaliannya di saku. Ada segunung kepercayaan dan tanggung jawab yang dipikulkan ke pundaknya.

Namun, apa yang terjadi? Markus menghilangkan uang sepuluh ribu rupiah itu! Saat sampai di toko kue cucur, uang itu sudah tidak ada lagi di dalam sakunya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Ia terlambat pulang ke rumah karena sibuk mencarinya ke mana-mana. Dari dalam rumahnya terdengar suara berisik orang-orang yang sedang mengobrol, menandakan bahwa kakek, nenek dan sepupunya sudah tiba.

“Mana cucurnya, Markus?” tanya ibunya. Markus bilang bahwa uang itu hilang.

Tiba-tiba ruangan senyap. Semua mata terarah kepadanya. Ia tidak mendapatkan hukuman apa pun. Ia pikir semua orang mengetahui betapa menyesalnya dirinya dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh siapa pun. Akhirnya semuanya kembali ke tempat duduk dan minum tanpa penganan sama sekali.

Di kemudian hari, Markus dan istrinya Like, tidak pernah bisa sepaham soal investasi keuangannya. Like merasa bahwa mereka harus agresif dalam menginvestasikan uangnya karena umur mereka belum mencapai empat puluh tahun, namun Markus menolak. Ia lebih memilih menyimpan di bank yang menurutnya “sangat aman”. Ia sangat terpukul atas hilangnya uang sepuluh ribu itu dan meng-imprint dalam benaknya sampai dewasa. Dia meyakini bahwa ia tidak mungkin bisa menyimpan uang sendiri setelah kejadian itu, apalagi mengembangkannya.

………Artkel ini bersambung di bulan April 2017

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

Maret 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *