Salah Cetak (Bag.4)

Artikel ini adalah lanjutan dari sebelumnya, jika belum membaca klik disini

Imprint dan Trauma

Candra adalah seseorang yang punya trauma pahit di masa kecilnya dan menjadi imprint sampai ia menikah. Berhubungan dengan uang, ia tidak akan pernah percaya pada siapa pun, termasuk istrinya sendiri.

Hal itu bermula dari pengalaman di masa kecilnya. Candra adalah penabung yang baik. Oleh orangtuanya Candra dididik untuk selalu menabung dan bila ia ingin membeli sesuatu uangnya harus diambil dari tabungannya sendiri. Ia memiliki banyak sekali celengan, mulai dari celengan tanah liat berbentuk ayam sampai plastik yang berlubang di bawahnya. Candra selalu memindah-mindahkan uang tabungan dari satu celengan ke celengan lainnya. Waktu itu ia berumur 9 tahun dan punya tabungan 40 ribu rupiah. Ia ingin membeli mobil mainan dengan remote control seharga 100 ribu rupiah. Jadi, ia mulai menabung dengan serius.

Ia memasukkan uang jajannya makin banyak lagi ke dalam celengannya. Setiap kali mengisi celengan ia akan menghitungnya kembali untuk melihat berapa lagi kekurangannya. Ketika dia yakin bahwa uang sudah lebih dari yang dibutuhkan, dia membuka celengannya dan mulai menghitungnya… ternyata cuma ada 25 ribu rupiah! Ia tidak bisa mempercayainya. Ia tahu bahwa kakak perempuannyalah yang telah mencurinya. Ia benar-benar yakin akan hal ini, namun kakaknya menyangkal. Saat dia mengadu kepada orangtuanya, mereka malah mengatakan bahwa mungkin dialah yang salah hitung. Mereka bahkan menegurnya dengan mengatakan bahwa tidak baik menuduh orang lain. Kakaknya berdiri di situ sambil tersenyum. Candra tahu bahwa kakaknyalah yang telah mengambil uangnya dan kakaknya juga sadar bahwa Candra mengetahuinya.

Setelah menikah pun, pemikiran untuk membuka rekening gabungan dengan istrinya benar-benar merupakan hal yang mustahil buat Candra.
***

Anda sering mendengar pengalaman-pengalaman imprint seperti cerita di atas? Banyak contoh kejadian seperti itu. Mungkin Anda pun memiliki versi Anda sendiri. Intinya: suatu hal dramatis yang terjadi pada diri seseorang pada usia tertentu yang amat menentukan, secara neurologis akan meninggalkan jejak (imprinting) pada diri orang tersebut. Gejala itu mirip dengan kesalahan cetak (anggap seperti sebuah buku yang salah cetak) di otak bila kejadian tersebut tidak menguntungkan buat kehidupan seseorang. Sebaliknya, menjadi berkah bila imprint itu berupa hal yang positif dan mendorong (empowering).

Halaman ini terlalu terbatas, bila kita ingin membahas cara mengatasi masalah salah cetak ini. Bila tertarik, Anda bisa membaca buku saya NLP in Action [2008].

Pesan pertama buat orangtua: berhati-hatilah memperlakukan keluarga! Sebab, kadang sesuatu yang dilakukan secara “tidak sengaja” – atau malah sebenarnya sekadar gurauan – bisa berakibat “salah cetak” di otak anak-anak Anda. Ini khususnya buat Anda yang sulit mengendalikan amarah, ucapan dan perilaku Anda.

Kedua, karena imprint terekam di alam bawah sadar seseorang, kadang mustahil untuk memahaminya secara rasional, dengan menggunakan akal sehat. Bahkan yang bersangkutan sendiri pun kadang sangat sulit mengendalikannya!

Yang ketiga, mencegah akan selalu lebih murah serta bijak ketimbang menyembuhkan.

—-

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

April 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *