Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya (Bag.1)

  Hendri masuk ke kantor saya. Wajahnya terlihat kusut menahan rasa jengkel. Dia longgarkan dasi Giani Versacenya lalu membanting tubuh sekenanya. “Aku nggak ngerti. Benar-benar nggak ngerti. Apalagi yang harus kuberikan? Mobil sudah, incentive sering. Promosi jabatan baru saja diterimanya. Tapi kerjaannya?” katanya sambil menyebut nama salah satu manajernya. “Punya gagasan?” “Pernah mengancam untuk memecatnya?” …

Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya (Bag.1) Read More »