Meributkan Hal-hal Sepele (Schismogenesis) (Bag.3)

Artikel ini lanjutan dari bulan sebelumnya jika belum membaca klik disini

 

Ilustrasi Ketiga

Melakukan hal yang sama berulang kali dan bukannya mengubah taktik sesungguhnya adalah hal yang irasional dan bebal, namun pada saat sedang berlangsung yang bersangkutan tidak bepikir untuk mengubah taktik karena cara berbicaranya sudah sesuai dengan gayanya. Ilustrasi ketiga di bawah ini menggambarkannya.

Hanung sedang mencoba memutuskan persahabatannya dengan Gatot. Ia semakin sadar bahwa semakin dekat hubungan mereka, ia semakin takut berbicara karena bisa memancing Gatot membentak atau menentangnya.

Suatu hari Gatot terus terang bertanya mengapa Hanung menjauh darinya. Hanung ingin mengatakan dengan jujur, tetapi ia sudah terbiasa untuk tidak berkata-kata yang bisa melukai perasaan lawan bicaranya. Jadi ia berkata kepada Gatot bahwa ia sedang sibuk dan benar-benar tidak punya waktu untuk bertemu kawan-kawannya, dan memang benar demikian adanya.

“Tidak mungkin. Pasti bukan karena itu!” bentak Gatot. “Kamu pasti bisa menyisihkan waktu kalau memang kamu mau.”

Merasa diserang dan dituduh oleh kasarnya reaksi Gatot, Hanung terbelalak sejenak dan akhirnya mengaku, “Mungkin saya agak menjauh sedikit, barangkali kita terlalu dekat sampai-sampai, ya… kamu tahu sendirilah, kesannya negatif.”

“Iya juga ya… Kayaknya sih memang begitu,“ ujar Gatot puas.

Namun ini adalah salah satu percakapan terakhir mereka. Karena percakapan seperti contoh di atas itulah mengapa Hanung mencoba memutuskan persahabatan mereka. Hardikan Gatot yang langsung dan terkesan menuduh, “Pasti bukan karena itu!”, walaupun tepat, membuat Hanung seperti ditekan, dipojokkan, dan dikritik. Ini membuatnya merasa tidak nyaman. Jika saja saat itu Hanung mengatakan sesuatu seperti, “Itu mungkin hanya sebagian dari alasan yang ada, tetapi saya merasa ada sesuatu yang lain. Saya tahu, sesibuk apa pun saya masih bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman-teman, kalau saya mau.” Dengan begitu ia akan bisa sedikit demi sedikit mengutarakan alasan yang sebenarnya. Ini malah sebaliknya, Hanung menjadi lebih ragu-ragu, tidak terus terang, dan menghindar sewaktu berbicara dengan Gatot karena ia yakin Gatot cenderung menyerang dan menghardiknya agar mengaku. Gatot pun merasakan hal serupa. Penghindaran lisan Hanung justru menjengkelkannya dan membuatnya ingin mencengkeram krah baju Hanung serta menggoncang-goncangkannya agar ia bicara terus terang.

***

 

Menurut Deborah Tannen dalam That’s Not What I Meant! [1986] komunikasi adalah sebuah sistem. Semua yang diucapkan adalah aksi dan reaksi, reaksi dan aksi yang serempak. Kebanyakan kita cenderung memandang diri kita memberikan reaksi atas apa yang dikatakan atau diperbuat orang lain, tanpa menyadari bahwa tindakan atau kata-kata mereka sebagian merupakan reaksi atas tindakan dan kata-kata kita. Kita juga cenderung melupakan bahwa reaksi kita atas sikap mereka tidak akan menjadi akhir proses, tetapi memicu reaksi lainnya, secara berkesinambungan. Ketika masalah muncul, kita mencoba memecahkannya dengan sungguh-sungguh, tetapi pikiran kita berfokus pada maksud yang disampaikan, bukan pada gaya percakapan orang lain. Jadi, ketika gaya berbeda muncul, upaya lebih keras untuk membuat segalanya lebih baik seringkali berupa pengulangan hal yang sama – dan menjadikan segalanya lebih buruk.

 

Cinta dan Benci Disemai di Ladang yang Sama

Tannen menerangkan fenomena menarik dari schismogenesis dalam relasi suami istri yang memiliki budaya berbeda. Kadang orang memilih pasangan berdasarkan daya tarik romantis, yang dipicu oleh perbedaan budaya. Tetapi setelah relasi keduanya berlangsung cukup lama, keduanya mengharapkan relasi yang lebih bersifat persahabatan. Dan hubungan semacam ini paling sering ditemukan dalam lingkup budaya yang sama. Jadi benih-benih kekecewaan, sesungguhnya, disemai di ladang yang sama dengan tempat disemaikannya benih-benih cinta.

“Pergulatan terus-menerus seperti itu lazim timbul di antara pasangan dari negara yang sama, kota yang sama, bahkan jalan yang sama. Hal ini disebabkan karena kebanyakan relasi seseorang yang paling akrab dan berharga adalah antara pria dan wanita, sementara pria dan wanita bisa dipastikan mempunyai gaya yang berbeda,” kata Tannen.

Nah, Anda pasangan suami istri yang berbeda budaya, sebenarnya perbedaan adalah berkah, karena di dalamnya Anda berdua bisa hidup dengan penuh dinamika dan variasi. Namun sesuatu yang nampak berkah bisa pula berubah menjadi musibah, kalau tidak dikelola dengan baik. Kadang hal yang sepele di mata seseorang justru merupakan hal yang prinsip dari sudut pandang lawan bicaranya. Jadi, saling memahami model dunia pasangan masing-masing (dalam NLP istilahnya Pacing-Leading) adalah kunci menjembatani relasi semacam ini.

***

 

 

Sumber :
Buku # 2 dari 3 buku terbaru RH Wiwoho yang terangkum dalam
Trilogi Pemimpin, Wanita dan Terapis.

Trilogi # 1 berjudul : Ketika Maju Salah Mundur pun Salah,
Trilogi # 2 : Terapi-terapi Kilat, dan
Trilogi # 3 : Sahabatku Bernama Takut.
Tersedia di toko buku terdekat.

 

 

 

Juli  2018